Aru melompat dari dahan ke dahan di kanopi hutan. Angin berdesir di antara daun-daun lebar. Jauh di bawah, asap tipis mengepul dari tempat perkemahan.
Ia berhenti mendadak. Asap oranye mengepul dari perapian yang lupa dipadamkan. Api menjilat daun kering, suara kresek makin keras. Ekornya melilit erat pada dahan.
Aru turun cepat, meluncur dari batang pohon ke batang pohon. Ia menabrak dada Bo yang sedang duduk di dekat batu persembahan. "Tunggu," bisiknya pada dirinya sendiri.
Bo mengangkat sticks api kecil. "Satu percikan," katanya, menggesekkan sticks itu ke batu. Percikan menyala sesaat, lalu padam. Aru menatap sisa bara yang memudar.
Keesokan harinya, Aru berdiri di atas kubus semut. Ia bertepuk tangan kuat-kuat. Burung, rusa, dan sigung datang satu per satu. "Kita harus siap!" teriaknya.
Aru mengisi tempayan kayu berlubang dengan air sungai. Kemudian ia menandai jalan lebar di antara pohon-pohon dengan batu putih. Setiap hewan mendapat tugasnya sendiri.
Minggu-minggu berlalu. Hutan belajar bernapas perlahan. Batu putih membentuk garis di tanah, seperti jalan evakuasi yang diam-diam dijaga setiap hari.
Suara langkah kaki mengganggu ketenangan. Seseorang menginjak ranting kering. Percikan api kecil melayang, berputar di udara sebelum menyentuh tanah.
Aru mengerang keras. Semua hewan bergerak serentak. Sigung menyemprotkan air dari tempayan kayu. Burung-burung mengepakkan sayapnya, meniup asap menjauh.
Bara itu berbunyi sssst, mengecil, dan mati sebelum menyentuh daun hijau apa pun. Hutan menghirup napas panjang. Tidak ada yang terbakar.
Malam itu, Bo duduk di samping batu persembahan. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya mengangguk pelan ke arah Aru yang sudah tidur di dahan dekatnya.
Di jam keemasan, Aru duduk di kubus semut. Jalur batu putih berkilau di bawah cahaya matahari senja. Air di dalam log berkilap. Hutan tenang. Aru mengunyah mangga dan mengumandungkan suara pelan.