Kendrick melempar mikrofonnya ke aspal basah. Suara *thud* yang tajam menggema di lorong bata. Bass berdetak keras, membuat rahangnya mengeras.
Ia menarik buku catatan dari saku. Tinta memudar di bawah jarinya yang gemetar. Hujan mulai turun, setiap baris baru terasa seperti perisai.
Sebuah suara gaduh memecah keheningan. Sebuah kucing liar menjatuhkan tumpukan kotak susu kosong. Kendrick terkejut, lalu diam melihat makhluk kecil itu.
Kendrick berdiri tegak dan mulai merapal lirik halus. Suaranya menembus gema musik rival. Iramanya menenangkan napasnya, menyinkronkan dengan detak jantung kota.
Lampu jalan berkedip dan meredup. Kendrick berdiri sendirian dalam bayangan. Ia menyesuaikan topinya, mendengarkan malam yang sunyi, menunggu apa yang datang berikutnya.
Kendrick menutup buku catatannya dengan perlahan. Tinta masih basah di halamannya. Ia tersenyum tipis, siap menghadapi tantangan baru esok hari.
Langit mulai berubah warna, pagi hampir tiba. Kendrick berjalan keluar dari lorong, meninggalkan jejak kaki di aspal basah. Musik masih bergema di kepalanya.
Kendrick berhenti sejenak di tepi jalan. Ia mengambil napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi ini. Bisikan liriknya masih tertinggal di angin.