Di sebuah kerajaan terpencil yang dikelilingi hutan pelangi, Cahaya Kristal Pelangi berbaring kelam di lantai kastil.
Putri Ainun menyentuhnya. Dingin. Sunyi. Ia berbisik, "Bangunlah, Cahaya Kristal Pelangi."
Putri Ainun memegang tangan Arumi. Mereka berjalan masuk ke Hutan Pelangi. Segalanya kini berubah abu-abu.
Daun putih, bunga pucat, tidak ada kicauan burung. Putri Ainun tetap melangkah.
Jalan tiba-tiba hilang. Putri Ainun dan Arumi berdiri di tepi lubang gelap. Ia mengangkat Arumi ke bahunya.
Arumi melihat jejak kaki kuning bercahaya menembus kegelapan. "Ikuti aku!" desisnya.
Di jantung hutan, mereka menemukan pohon kristal raksasa. Retakan membelahnya dari atas ke bawah.
Putri Ainun menekan telapak tangannya di kiri retakan. Arumi menekan di kanan. Kristal mulai bergetar.
Kristal itu berdengung pelan, seperti lagu pengantar tidur. Putri Ainun dan Arumi memeluknya erat.
*Boom!* Warna-warna meledak kembali — merah, jingga, emas, hijau, biru, ungu — memenuhi seluruh hutan.
Putri Ainun menggenggam tangan Arumi. Mereka tertawa. Seluruh kerajaan bersinar lagi.
Cahaya Kristal Pelangi bersinar kembali. Kerajaan terlindungi. Hutan pelangi hidup lagi.