Miko menyibak panel kulit pohon yang longgar di batang pohon kuno. Selembar peta kuning merosot keluar, ujung-ujungnya melengkung seperti daun kering. Jari-jarinya menggigil menyentuh butiran kertas kasar.
Ia menelusuri jalur berliku bertanda bintang kecil. Peta itu dilipat masuk ke saku, lalu Miko melangkah masuk ke hutan, mengikuti bintang pertama menuju sungai berkilauan di kejauhan.
Miko menginjakkan kaki ke dalam sungai. Air mengalir di sekitar lututnya. Ikan-ikan bercahaya melintas cepat di samping kakinya. Di atas batu, seekor katak memakai daun keriting sebagai topi meloncat.
Katak itu berkokok, "Jalan itu tutup, Nak." Miko mengangkat peta. Katak itu menatapnya, lalu meloncat ke samping dengan enggrok menyerah.
Ia berjalan melewati hutan jamur yang berbisik pelan. Hingga sampai di pohon beringin raksasa. Di batang kayunya, sebuah lubang tersembunyi menunggu.
Di dalam lubang itu, petunjuk terakhir terukir dengan tinta biru yang berkilau. Miko menyapu jari telunjuknya di sepanjang huruf-huruf itu. Hangat menjalar di kayu. Tinta itu berdenyut sekali.
Ia menekankan telapak tangan ke dalam lubang, mendorong. Tanah bergetar. Lubang itu berderak dengan cahaya, dan sebuah tunas meletus ke atas.
Tunas itu tumbuh dalam hitungan detik menjadi pohon raksasa. Cabangnya berkilau seperti rasi bintang. Bunga-bunga bercahaya meletus di seluruh lantai hutan.
Pohon-pohon di sekeliling menyala satu per satu. Hutan berubah. Cahaya biru, hijau, dan emas menari di antara dedaunan. Miko mundur selangkah, tak percaya.
Miko duduk di akar pohon yang baru tumbuh. Akarnya hangat di bawahnya. Hutan bergumam dengan sihir lembut yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Kupu-kupu bersayap bercahaya mendarat di lututnya.