Sari dan Burung Rangrang

"Sari dan Burung Rangrang" is a Watercolor picture book starring a young Indonesian girl by Geo With Andin for Ages 6–9 — created with Doodara, the AI storybook maker for kids

by Geo With Andin · Watercolor · Ages 6–9 · young Indonesian girl · 12 pages

curious, brave, helpful

Kepedulian dan keselamatan satwa

Desa kecil di tepi hutan Kalimantan terbentang di antara pohon-pohon pinang dan rumpun bambu yang rimbun. Kabut tipis menyelimuti atap-atap rumah panggung saat matahari baru naik. Bunyi sungai dan kicau burung mengisi udara lembap sepanjang pagi. Udara berhembus ringan membawa aroma tanah basah dan bunga melati.

Sari mendengar bunyi thump di balik pagar bambunya. Ia mendorong daun-daun keladi dan menemukan seekor burung hornbill dengan sayap yang patah. *Aku harus membantunya,* pikir Sari sambil mengangkat burung itu dengan kedua tangan. Tangannya gemetar pelan saat mengangkat burung itu dari antara akar-akar bambu.

Sari membawa burung itu perlahan ke kamarnya di lantai dua. Ia menata sebuah kotak sarang lama dengan rumput lembut di dasarnya. Burung itu berdesis pelan, matanya yang hijau mengamati setiap gerakan Sari. Di dinding tergantung beberapa alat berburu lama dan jala ikan usang.

Sari menusukkan nasi ke paruh burung itu, tapi burung hanya memiringkan kepalanya. *Mungkin ia tidak suka nasi,* pikir Sari. Ia mengingat cerita para rangers tentang buah-buahan hutan yang menjadi makanan favorit hornbill.

Sari mendaki pohon durian di belakang rumahnya dengan hati-hati. Ia meraih satu buah yang sudah matang dan membiarkannya jatuh ke atas daun lebar di bawah. Daging buahnya terbuka, berwarna kuning pucat dan manis. Daun-daun durian yang lebar bertumbuh di bawahnya, menunggu buah yang jatuh.

Burung hornbill itu menyambar potongan durian dengan cepat. *Glok!* bunyinya menelan, lalu matanya yang hijau berkedip perlahan. *Ia akhirnya mau makan,* pikir Sari sambil tersenyum.

Hari-hari berlalu sementara Sari mengikat sayap burung dengan serat pisang yang lembut. Burung itu tetap diam di dalam kotak sarangnya, jarang bergerak. *Kapan sayapmu akan sembuh lengkap?*, bertanya dalam hati. Di luar jendela, hujan mulai turun membasuh dedaunan hutan yang hijau.

Suatu pagi, burung itu mengetuk paruhnya ke batu halus di sudut kotak. Klik. Klik. Klik. *Ia sedang bermain,* pikir Sari. Ia mencatat setiap ketukan di buku sketsanya dengan pensil. Awan bergerak perlahan di luar jendela, menerbitkan cahaya redup ke dalam kamar.

Pagi itu, Sari melihat batu itu telah digeser ke sudut lain kotak. *Ia sudah siap pulang,* batin Sari. Burung hornbill berdiri di tepi, sayapnya sudah tumbuh bulu baru yang rapi. Cahaya pagi memasuki kamar melalui celah-celah dinding kayu yang usang.

Sari membawa burung itu ke tepi hutan dengan hati-hati. Dua ranger dalam seragam khaki muncul dari balik pohon jati. Di dahan dekat mereka, seekor langur perak dan monyet belibis mengamati. Udara di tepi hutan terasa dingin dan basah oleh embun pagi.

"Setiap makhluk di sini adalah benang dalam jaring hutan hujan," kata ranger tua itu. Ia menekan ukiran hornbill kayu ke telapak Sari. Burung asli di lengannya bersuara lancang dan mengepakkan sayapnya yang sudah sembuh.

Sari pulang dengan ukiran itu di bawah lengan. Malam itu ia menggambar langur dan monyet di buku sketsanya. Keesokan paginya, seekor bulu hitam bersandar di ambang jendela. *Kau datang kembali,* batin Sari.

Doodara

Sari dan Burung Rangrang

Geo With Andin