Sekolah Hijauku

"Sekolah Hijauku" is a Watercolor picture book starring a young Indonesian girl by Irfak Maulana for Ages 6–9 — created with Doodara, the AI storybook maker for kids

by Irfak Maulana · Watercolor · Ages 6–9 · young Indonesian girl · 12 pages

curious, helpful, cheerful

green and healthy school

Di halaman SD yang teduh, tanah dekat taman tampak kering dan retak-retak. Nia menendang sebuah ranting kering dan debu beterbangan di sekitar sepatunya. Ia menatap pot-pot tanaman sayu di pinggir kelas, lalu berbisik, "Kita butuh lebih banyak hijau di sini."

Nia menggali sedikit tanah di dekat taman, lalu berjalan menuju Ayla yang sedang duduk di bangku. "Ayo, kita tanam pohon!" katanya sambil menggenggam segenggam tanah di tangan. Ayla menatap tangan Nia, lalu menggeleng.

"Tidak boleh kotor di sepatu ini," jawab Andi sambil melompat mundur. Sepatu merahnya yang bersih berkilau di bawah matahari. Nia menunduk, melihat tanah di telapak tangannya sendiri. Ia tidak menyerah.

Nia berjalan melewati taman dan menemukan Siti sedang menggambar di bawah pohon besar. Ia membuka buku gambarnya dan menunjukkan sebuah ilustrasi hutan lebat. Siti menelusuri gambar daun itu dengan pensilnya, lalu menghela napas.

"Tapi di mana kita akan menggali?" tanya Siti sambil menunjuk tanah yang keras di sekitar mereka. Nia menoleh ke arah sudut taman yang ditumbuhi rumput liar. Di balik semak-semak, sesuatu berkilau samar.

Nia merogoh ke semak dan menarik sebuah cangkul berkarat. Saat ia mengayunkannya, alat itu menabrak batu dan patah. Nia berlutut, menggerakkan tangannya sendiri ke dalam tanah.

Tiba-tiba, seekor kupu-kupu biru cerah terbang dari balik semak dan mendarat di ujung jarinya. Nia terdiam. Dari balik pohon, Andi dan Siti muncul, matanya membelalak.

Andi dan Siti melangkah maju, jari mereka menyentuh sayap kupu-kupu itu sejenak sebelum terbang tinggi. "Kita bisa mulai dari sini," kata Andi, suaranya penuh keyakinan. Siti mengangguk mantap.

Mereka bertiga mulai menggali. Lubang kecil demi lubang kecil terbentuk di tanah keras itu. Andi memasukkan biji-bijian, Siti menipinya dengan hati-hati, dan Nia menimbunnya dengan tanah gembur.

Nia mengambil sebuah cangkir timah berkarat dan Menuang air ke setiap lubang. Air membasahi tanah dan cipratan kecil mendarat di punggung tangan Nia. Ia tersenyum puas.

Beberapa minggu berlalu. Taman yang dulu kering kini berubah. Tunas-tunas hijau kecil muncul satu per satu, diikuti oleh kuntum bunga berwarna kuning dan ungu yang bermekaran di antara daun-daun segar.

Nia berdiri di antara barisan tanaman itu, menatap hijaunya yang memenuhi sudut taman. Andi dan Siti berdiri di sisinya, keduanya tersenyum. Taman itu bukan lagi tempat yang sunyi — sekarang penuh dengan kehidupan.

Doodara

Sekolah Hijauku

Irfak Maulana